Pesona di Pesisir Kahayan

Tak terbayangkan sebelumnya, bahwa pada suatu saat saya akan menikmati kota Palangka Raya. Sebuah ibukota Propinsi di tengah rimba raya Kalimantan. Itulah yang terpikir di benak saya, sebelum mendarat di Bandara Tjilik Riwut.

Itulah yang terjadi, karena sebuah keharusan akhirnya saya mendarat disana. Kesan pertama, Bandara Udara nya terlihat mungil. Tapi begitu keluar Bandara, jalan cukup lebar memanjang. Aneh, pikir saya. Bandara Udara begitu kecil, tapi jalan raya cukup lebar untuk ukuran kota yang lalu lintasnya terbilang sepi.

Tiba saatnya makan siang, kami dimanjakan dengan kuliner di tepian Sungai Kahayan. Ikan Pari Bakar dengan sambal, rasanya mulut ini susah untuk berhenti mengunyah. Mak nyus tenan …… apalagi ditambah sayur akar rotan muda yang rasanya pahit tapi manis tapi cukup menyegarkan dan ditutup es kelapa muda.  Rasanya menjadi agak enggan untuk beranjak. Pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Satu hari disana, bisa disimpulkan, bahwa tidak ada tempat wisata di Palangka Raya. Yang ada hanya tempat belanja. Hanya ada satu mall, dan tempat membeli batu-batuan yang terletak di dekat Pasar Mahakam. Banyak jenis batu-batuan yang diperdagangkan disana. Harga cukup menarik dengan ragam yang cukup melelahkan mata, karena begitu banyaknya.  Bagi anda yang suka batu-batuan, dipastikan anda akan terpuaskan.

Sebenarnya ada beberapa tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi,  seperti Taman Nasional Tanjung Puting, dan Taman Nasional Sebangau. Ada lagi Puruk Batu Suli di kabupaten Gunung Mas, kabarnya memiliki pesona yang menawan. Akan tetapi waktu yang hanya sehari dan letaknya yang cukup jauh, membuat kami sulit untuk menyempatkan waktu kesana.

Di Palangka Raya,  ada pemandangan unik yang tak akan terlupakan. Di setiap SPBU, hampir dipastikan terjadi antrian panjang kendaraan untuk mendapatkan Solar. Menurut mereka, itu pemandangan biasa yang terjadi setiap hari.

Hari kedua, kami mencoba rute yang berbeda.  Pagi sehabis sarapan, kami menjejaki jalan raya yang sepi ke arah barat. Menelusuri jalan raya Tjilik Riwut. Sebuah jalan yang membentang sepanjang 1000 km tanpa belokan,  dari Banjarmasin, Palangka Raya  hingga Pontianak.

Menyusuri jalanan yang sepi, melewati Bukit Batu hingga Tangkiling terus ke barat. Sepanjang mata memandang, dikanan kiri jalan hanyalah tanah datar. Tak terlihat lagi rimba raya Kalimantan, tapi sudah menjadi lahan para trasmigran, dan para pengusaha lahan. Baik kebun Karet  maupun Kelapa Sawit.

Semoga suatu hari nanti,  bisa menjejakkan kaki kembali di Tanah Dayak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s